“Tidak Ada Manusia yang Kekal, Hanya Tuhan yang Tetap Setia”

 

Kota, Perang, dan Pengakuan Iman akan Tuhan yang Kekal

Kota besar sering dipandang sebagai lambang keberhasilan manusia. Gedung-gedung tinggi, teknologi canggih, dan sistem yang tertata rapi seolah menunjukkan bahwa manusia mampu menguasai masa depan. Namun Alkitab mengingatkan kita bahwa sebesar apa pun pencapaian manusia, hidup tetap berada dalam keterbatasan.

Ketika perang terjadi, keterbatasan itu tersingkap dengan jelas. Kota yang tidak memiliki sumber daya sendiri—tanpa pangan, air, dan energi mandiri—menjadi sangat rapuh. Distribusi terputus, kehidupan sosial terguncang, dan rasa aman perlahan menghilang. Apa yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh dalam waktu singkat.

Firman Tuhan berkata,
“Jika bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.” (Mazmur 127:1)

Ayat ini mengingatkan bahwa kekuatan manusia, secerdas apa pun, tidak pernah menjadi jaminan keselamatan. Perang menyingkapkan kebenaran bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas hidupnya sendiri. Kekuasaan, harta, dan teknologi tidak mampu menghentikan penderitaan, kelaparan, dan kematian.

Dalam situasi krisis, banyak orang mulai bertanya kembali: Di manakah pengharapan sejati? Ketika dunia tidak lagi memberi rasa aman, iman menjadi tempat manusia berpaut. Alkitab dengan tegas menyatakan,
“Manusia seperti rumput, dan segala kemegahannya seperti bunga di padang.” (1 Petrus 1:24)

Kesadaran ini bukan untuk melemahkan, melainkan untuk merendahkan hati. Manusia dipanggil untuk hidup saling mengasihi, menolong sesama, dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri. Kota dan desa, kaya dan miskin, semuanya membutuhkan kasih dan keadilan Allah agar dapat bertahan.

Di tengah peperangan dan ketidakpastian hidup, iman Kristen mengarahkan pandangan kita kepada satu kebenaran yang teguh: tidak ada manusia yang kekal selain Tuhan. Dialah Alfa dan Omega, yang awal dan yang akhir (Wahyu 22:13). Ketika dunia berubah dan manusia gagal, Tuhan tetap setia dan berdaulat.

Pembelajaran Penting bagi Orang Percaya

Dari realitas kota, perang, dan keterbatasan hidup manusia, ada beberapa pembelajaran rohani yang penting untuk direnungkan:

  1. Jangan Menaruh Harapan pada Kekuatan Dunia
    Perang mengajarkan bahwa sistem, kekuasaan, dan teknologi bisa runtuh kapan saja. Orang percaya dipanggil untuk mengandalkan Tuhan, bukan pada apa yang dibangun manusia semata (Amsal 3:5).

  2. Hidup dalam Kerendahan Hati
    Kesadaran bahwa manusia tidak kekal menolong kita untuk tidak meninggikan diri. Hidup adalah anugerah, bukan hak yang bisa kita kendalikan sepenuhnya.

  3. Pentingnya Solidaritas dan Kasih
    Dalam krisis, kasih menjadi kekuatan sejati. Orang Kristen dipanggil untuk hadir bagi sesama, menolong yang lemah, dan menjadi terang di tengah kegelapan (Matius 5:16).

  4. Menjadi Penatalayan Ciptaan Tuhan
    Ketergantungan kota pada desa dan alam mengingatkan bahwa manusia harus menjaga ciptaan Tuhan, bukan mengeksploitasinya tanpa tanggung jawab.

  5. Menghidupi Iman dalam Tindakan Nyata
    Iman bukan hanya pengakuan lisan, tetapi diwujudkan dalam sikap hidup: kejujuran, kepedulian, keadilan, dan pengharapan yang teguh di dalam Kristus.

Pada akhirnya, semua pembelajaran ini membawa kita pada satu pengakuan iman yang mendalam: manusia terbatas, dunia dapat berubah, tetapi Tuhan tetap sama. Tidak ada manusia yang kekal selain Tuhan, dan di dalam Dialah orang percaya menemukan pengharapan yang tidak pernah berakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah KK sarah Oropa (Kader Malaria) Mengasihi Tanpa Batas

Makna Adat dalam Fashion Show Anak TK, Menanamkan Cinta Budaya Sejak Usia Dini (TK Edelweis)

Harapan Baru, Awal dari Perubahan Hidup