Tuhan Peluk Aku sebentar Saja

Sejak Kecil kita hanya dapat meminta kepada orang tua tanpa melihat dan mengerti kesusahan orang tua, bagaiamana mereka berjuang dan bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. kita hanya bisa merengek dan meminta agar kemauan kita terpenuhi. Mereka selalu berkata tunggu yah nak, kalau Bapa ada uang nanti pasti kita akan membeli" dengan nada lembut tentunya menjawab ia bapa. perjalanan yang panjang memasuki usia belasan tahun kita mulai sadar bahwa kita bukanlah orang yang mempunyai segudang materi seperti anak lainnya yang manja mendapat apa yang mereka mau. saya selalu mengingat bahwa, Roh Kudus adalah pribadi yang memberi pengertian kepada kita agar memahami keadaan orang tua. membantu mereka dalam pekerjaan untuk mendukung perekonomian dalam kebutuhan pendidikan juga kebutuhan lainnya. 

Letak Kesadaran dan rendah hati menuntun  kebangunan rohani  dan menempatkan Tuhan Yesus dalam hati memberikan kedamaian dalam hati dan merubah ego kita menjadi damai sejahtera, Namun secara manusiawi. kita tidak pernah luput dengan situasi yang menghimpit keadaan, kitapun sadar bahwa  ketika kita menikah dan mempunyai keluarga, adalah sebuah tanggung jawab besar yang harus dipikul sama seperti orang tua yang telah melaluinya. oleh karena itu, dengan didikan mengarahkan kita dalam menjalani proses kehidupan ini. Mereka selalu mengingatkan bahwa datanglah ke hadiratNya, maka Tuhan memberikan Damai sejahteraNya.
Tuhan peluk aku sebentar saja.
Kalimat yang menandakan bahwa proses hidup yang kita lalui dengan segenggam masalah membuat kita ingin di peluk Tuhan sebentar saja untuk menenangkan hati. suatu titik dalam perjalanan hidup, pernah merasakan letih yang tidak tampak oleh mata. Bukan sekadar lelah fisik, tetapi kelelahan batin yang berdiam di dalam hati: kekhawatiran yang menumpuk, beban pikiran yang tak selesai, dan langkah yang terasa semakin berat. Dalam momen seperti inilah, sebuah kalimat sederhana sering terucap dari kedalaman jiwa: “Tuhan, peluk aku sebentar saja.”

Kalimat ini bukan sekadar permohonan, melainkan ungkapan kejujuran paling manusiawi. Ada kerinduan akan ketenangan, perlindungan, dan kasih yang tak terbatas. Pelukan Tuhan bukan berarti sentuhan secara fisik, tetapi sebuah ruang dalam hati untuk merasa aman, diterima, dan diperhatikan. Ketika dunia terasa gaduh, pelukan itu menjadi tempat paling sunyi untuk kembali bernapas.

Ketika beban hidup menekan, mengakui kelemahan bukanlah tanda menyerah, tetapi justru awal dari penyembuhan. Mengizinkan Tuhan hadir dalam kepenatan adalah langkah kecil yang membuka pintu bagi damai. Kita diingatkan bahwa manusia tidak dirancang untuk menanggung segalanya sendirian. Ada tangan yang lebih besar, ada kasih yang lebih luas, yang siap menyelimuti.

Memohon “pelukan” dari Tuhan juga berarti memberi ruang bagi diri untuk berhenti sejenak. Menenangkan pikiran, memulihkan energi, dan membiarkan cahaya pengharapan masuk kembali. Dalam keheningan doa, hati yang rapuh menemukan kekuatannya. Dalam jeda singkat itu, kita belajar bahwa pelukan Tuhan dapat hadir melalui banyak hal—melalui orang-orang yang peduli, melalui firman yang menguatkan, ataupun melalui ketenangan yang tiba-tiba datang tanpa diminta.

Pada akhirnya, kalimat sederhana ini mengajarkan bahwa manusia butuh kehadiran ilahi dalam langkahnya. “Tuhan, peluk aku sebentar saja” bukanlah permohonan yang berlebihan, tetapi seruan tulus manusia yang ingin kembali merasakan damai. Sebuah doa yang mungkin sebentar, tetapi mampu membawa ketenangan dalam waktu yang panjang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah KK sarah Oropa (Kader Malaria) Mengasihi Tanpa Batas

Makna Adat dalam Fashion Show Anak TK, Menanamkan Cinta Budaya Sejak Usia Dini (TK Edelweis)

Harapan Baru, Awal dari Perubahan Hidup