Fenomena “Orang Dalam” di Dunia Kerja: Antara Keuntungan dan Ketidakadilan

ORANG DALAM

Apa sebenarnya orang dalam??? sebenarnya kata ini tidak menjadi asing saat ini, karena berkembangnya teknologi dan media, ada banyak liputan yang menayangkan kebohongan publik. The power memberikan siapapun yang merupakan keluarga dari orang tersebut akan menjadi orang terpilih yang dimasukan kedalam lembaga yang dipimpin tanpa mengikuti jalur yang ditentukan. inilah yang disebut dengan miskin moral,  yah miskin moral merupakan sifat malas tahu dengan kejujuran. terbelenggu dalam rantai dan digembok sehingga menjadi budak ketidakjujuran. 

Dalam dunia kerja, profesionalisme dan kompetensi seharusnya menjadi landasan utama dalam proses penerimaan pegawai. Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan hal yang berbeda. Fenomena yang dikenal dengan istilah “orang dalam” masih marak terjadi—yakni praktik menggunakan pengaruh dari pihak internal untuk meloloskan seseorang dalam proses rekrutmen, baik karena hubungan keluarga, kedekatan pribadi, maupun imbalan tertentu.

Praktik ini tampak sepele bagi sebagian orang, namun sesungguhnya menimbulkan dampak serius bagi dunia kerja dan masyarakat luas. Ketika posisi pekerjaan diberikan bukan berdasarkan kemampuan, melainkan karena koneksi atau suap, maka kualitas sumber daya manusia dalam suatu lembaga menjadi menurun. Orang yang sesungguhnya berkompeten kehilangan kesempatan, sementara yang tidak layak justru menempati posisi penting.

Selain itu, budaya “orang dalam” menumbuhkan ketidakadilan sosial dan menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi. Di sisi lain, fenomena ini juga mencerminkan lemahnya integritas serta kurangnya pengawasan dalam proses seleksi tenaga kerja. Jika dibiarkan terus-menerus, praktik semacam ini dapat menumbuhkan generasi pekerja yang lebih mementingkan “siapa yang dikenal” daripada “apa yang dikerjakan”.

Oleh karena itu, perlu ada kesadaran bersama untuk menegakkan prinsip transparansi, meritokrasi, dan profesionalisme dalam setiap proses rekrutmen. Perusahaan dan lembaga seharusnya berani menolak intervensi pihak internal yang tidak semestinya, serta membangun sistem seleksi yang objektif dan berbasis kompetensi.

kenyataan hidup!

sayang sekali. meskipun ada generasi-generasi baru yang pintar sekalipun mencoba dengan berbagai cara, tidak akan pernah  lolos dalam dunia pekerjaan jika mencari pekerjaan secara murni. 

kapan budaya ini akan hilang. tidak akan pernah hilang!!! 

karena sudah menjadi kebiasan, kaum yang diatas tetap memperkaya diri, kaum menengah tetap bertahan dengan keadaan dan berusaha untuk membangun sesuatu yang baik, sedangkan kaum dibawah akan tetap tertipu dan tertindas jika tidak memperkuat pengalaman (meningkatkan Sumber daya manusia). setiap tahunnya ada kelahiran dan kematian. ada ribuan sarjana yang dihasilkan. lalu banyaknya sarjana yang dihasilkan akan dikemanakan? apakah harus berada dalam dunia pemerintahan???? 

ada baiknya sarjana harus menciptakan dan menghasilkan karya-karya baru sehingga dapat mempekerjakan yang lainnya. 

Dengan begitu, dunia kerja dapat menjadi ruang yang adil, sehat, dan bermartabat—tempat di mana keberhasilan seseorang benar-benar ditentukan oleh kemampuan dan kerja kerasnya, bukan oleh pengaruh “orang dalam”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah KK sarah Oropa (Kader Malaria) Mengasihi Tanpa Batas

Makna Adat dalam Fashion Show Anak TK, Menanamkan Cinta Budaya Sejak Usia Dini (TK Edelweis)

Harapan Baru, Awal dari Perubahan Hidup